Dampak Penjajahan Kepada Jiwa Kewirausahaan Di Indonesia

 mental jiwa wirausaha bangsa indonesia jaman penjajahan belanda dan jepang Dampak Penjajahan Terhadap Jiwa Kewirausahaan Di Indonesia

Bangsa Indonesia sudah merdeka kurang lebih 75 tahun yang lalu, sehabis terjajah oleh bangsa Belanda dan Jepang. Kurun waktu yang tidak sebentar, bahkan bisa dikatakan ialah waktu yang cukup usang untuk mensugesti anutan seluruh bangsa Indonesia sesuai cita-cita dan kode para penjajah. 

Hampir empat era bangsa kita diperbudak, penduduk didoktrin untuk patuh dan setia menjadi budak-budak pekerja. Setelah 75 tahun kemerdekaan, bangsa kita sudah bangkit secara berdaulat, tetapi ternyata imbas doktrinisasi di masa penjajahan tidak dapat serta merta hilang begitu saja. 

Di zaman modern, dimana warta makin terbuka luas mirip dikala ini, masih banyak penduduk indonesia yang terkungkung dalam mental terjajah, lebih senang menjadi abdi atau pekerja dari pada menjadi bos atau  pengusaha. Sepertinya semua ini berafiliasi dekat dengan imbas penjajahan. Mental terkungkung dalam “kepekewuhan” (bahasa jawa) yang tidak pada tempatnya, malu, tidak berani, tenteram dalam zona yang biasa-biasa saja, minder, suka dipekerjakan, dan banyak sekali sifat-sifat kecil lainnya.

Tak sanggup dielakkan, mental mirip ini yakni salah satu aspek besar penghambat pertumbuhan bangsa kita, utamanya dalam jiwa kewirausahaan.  Mereka tidak mempunyai cita-cita untuk bangkit sendiri, bikin suatu jerih payah yang bikin suatu lapangan pekerjaan, sekali lagi penduduk kita lebih memiliki kecenderungan menjadi seorang abdi. 

Mental terjajah ini juga masih menempel dalam diri para anak muda, pelajar, bahkan mahasiswa. Salah satu bukti kasatmata masih banyaknya mental terjajah dikalangan pelajar yakni masih banyaknya para pelajar yang menimba ilmu tinggi cuma untuk mencari pekerjaan, namun sedikit yang akan berupaya untuk bikin lapangan pekerjaan. 

Memang tidak ada salahnya untuk lebih menentukan menjadi abdi atau pekerja, tetapi bila mengatakan mengenai kewirausahaan maka mental seperti ini bisa sedikit banyak menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah yang sedang berupaya menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha dikalangan masyarakatnya.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah wirausaha di negara Indonesia naik dari 1,56% pada tahun 2014, menjadi 3,1% dari jumlah penduduk pada simpulan tahun 2016. Meskipun bertumbuh, tetapi ratio 3,1% ini masih dirasa sungguh jauh dari syarat untuk menjadi suatu negara maju. Adapun ratio ideal wirausaha untuk suatu negara maju yakni 14% dari jumlah penduduk di suatu negara.

Lapangan kerja yang ada makin tidak dapat lagi memuat lulusan perguruan tinggi tinggi yang jumlahnya jutaan setiap tahun. Penyerapan tenaga kerja tidak dapat cuma bergantung pada perusahaan yang sudah ada. Dibutuhkan wirausaha sejati untuk menolong mengakhiri duduk urusan ini. 

Upaya untuk menanggulangi duduk urusan ketenagakerjaan, tidak ada jalan lain kecuali melahirkan para wirausahawan. Ini menjadi tantangan berat untuk bangsa Indonesia, mengingat bahwa kepribadian bangsa kita yang masih sukar diubah dari seorang abdi menjadi seorang pengusaha.

Sebenarnya jerih payah untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sudah dijalankan sejak masa penjajahan, yakni dengan datangnya koperasi. Di masa penjajahan Belanda, gerakan koperasi pertama di Indonesia lahir dari inisatif tokoh R. A. Wiriaatmadja pada tahun 1896. 

Wiriaatmadja yakni seorang Patih di kawasan Purwokerto ( Banyumas ) ini berjasa menolong para pegawai, pedagang kecil dan petani dari hisapan lintah darat lewat koperasi. Beliau dengan pinjaman E. Sieberg, Asisten Residen Purwokerto, mendirikan Hulp-enSpaar Bank. Cita-cita Wiriaatmadja ini juga mendapat bantuan dari Wolf van Westerrode, pengganti Sieberg. Mereka mendirikan koperasi kredit metode Raiffeisen.

Koperasi tersebut kemudian meningkat pesat dan jadinya ditiru oleh Boedi Oetomo dan SDI. Belanda yang kalut koperasi akan dijadikan tempat sentra perlawanan, mengeluarkan UU no. 431 tahun 19 yang isinya yakni :
  1. Harus mengeluarkan duit minimal 50 gulden untuk mendirikan koperasi
  2. Sistem jerih payah mesti seumpama metode di Eropa
  3. Harus mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral
  4. Proposal pengajuan mesti berbahasa Belanda
Empat poin diatas menyebabkan koperasi yang ada dikala itu berjatuhan alasannya tidak mendapat izin dari Belanda. Namun sehabis para tokoh Indonesia melayangkan protes, jadinya pihak Belanda mengeluarkan UU Nomor 91 pada Tahun 1927. Isi peraturan pada UU Nomor 91 lebih ringan dari UU no. 431 mirip :
  1. Hanya mengeluarkan duit 3 gulden untuk materai.
  2. Bisa menggunakan bahasa daerah.
  3. Hukum jualan sesuai kawasan masing-masing.
  4. Perizinan bisa didaerah setempat.

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang kemudian mendirikan Koperasi Kumiyai. Awalnya berdirinya koperasi ini berlangsung dengan mulus. Namun fungsi koperasi pada masa penjajahan Jepang berubah drastis. Koperasi menjadi alat Jepang untuk mengeruk laba sebesar-besarnya. Tentu langkah-langkah Jepang ini bikin rakyat Indonesia sengsara. 

Pada tanggal 12 Juli 1947 atau dua tahun sehabis indonesia merdeka, kaum pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Salah satu keputusannya yakni menegaskan tanggal 12 Juli ditetapkan selaku Hari Koperasi Indonesia. 

Dalam perkembangannya, nampak kedatangan koperasi ini juga kurang efektif dalam upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan di Indonesia. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya, yaitu: 
  1. Kesadaran penduduk kepada koperasi yang masih sungguh rendah.
  2. Kurang tangguhnya mental / jiwa wirausaha penduduk Indonesia
  3. Minimnya wawasan penduduk mengenai Koperasi..
  4. Belum efektifnya tata kelola ditiap-tiap unit Koperasi.
Demikian  ulasan singkat mengenai dampak penjajahan kepada jiwa kewirausahaan di Indonesia. Kita mesti tetap semangat dan mesti berani keluar dari zona nyaman. Tetap dukung agenda pemerintah dalam upaya menumbuhkan ratio wirausaha di tataran nasional. Dan satu hal yang tak kalah penting yakni jangan pernah takut untuk berinovasi dan berkarya dari dalam diri kita sendiri.

Sekian dan tetap semangat !! 

Comments

Popular posts from this blog

Jejak Sejarah Seni Wayang Wong Surakarta

Koleksi Mainan LOL Surprise yang Menarik

Cara Mengecek Indosat Masih Aktif atau Sudah Kadaluarsa