Periodisasi Sejarah Indonesia Zaman Prasejarah Sampai Pendudukan Jepang

sejarah singkat periodesasi sejarah indonesia Periodisasi Sejarah Indonesia Zaman Prasejarah Hingga Pendudukan Jepang


PERIODISASI SEJARAH INDONESIA


Periodisasi dalam sejarah merupakan pembabakan waktu yang berurutan sesuai dengan waktu kejadian. Periodisasi dalam sejarah merupakan tingkat pertumbuhan masa dalam sejarah, yang maksudnya itu memudahkan pemahaman, pembahasan. 

Dalam peluang ini kami akan membicarakan tentang periodisasi sejarah bangsa Indonesia secara singkat. Adapun penulisannya selaku berikut: 

A. Zaman Prasejarah

Secara geologi, wilayah Indonesia terbaru (untuk kemudahan, berikutnya disebut Nusantara) merupakan konferensi antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Kepulauan Indonesia menyerupai yang ada di sekarang ini terbentuk pada di saat melelehnya es sehabis berakhirnya Zaman Es, cuma 10.000 tahun yang lalu.

Pada masa Pleistosen, di saat masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menampilkan penghuni pertama merupakan fosil-fosil Homo Erectus insan Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa insan Flores (Homo Floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya Homo Erectus hingga masa Zaman Es terakhir. 

Homo Sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang kemudian melalui jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 50.000 tahun yang kemudian sudah meraih Pulau Papua dan Australia. Mereka yang berciri rasial berkulit gelap dan berambut ikal rapat (Negroid), menjadi nenek moyang penduduk orisinil Melanesia (termasuk Papua) kini dan menenteng kultur kapak lonjong (Paleolitikum). 

Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum tiba secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan lewat Formosa dan Filipina menenteng kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan penggalan dari pendudukan Pasifik. 

Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini condong ke arah barat, mendesak penduduk permulaan ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk lokal dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini menenteng serta teknik-teknik pertanian, tergolong bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak era ke-8 SM), beternak kerbau, pembuatan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktek-praktek megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). 

Pada era pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sungguh mungkin sudah masuk imbas keyakinan dari India akhir relasi perniagaan.

B. Zaman Era Prakolonial

I. Kerajaan Hindu-Buddha

Para cendekiawan India sudah menulis wacana Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra sekitar 200 SM. 

Bukti fisik permulaan yang menyebutkan tanggal merupakan dari era ke-5 tentang dua kerajaan bercorak Hinduisme, Kerajaan Tarumanagara menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 agama Buddha sudah meraih wilayah tersebut. 

Pada era ke-5 hingga era ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yakni kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda hingga era ke-16. Pada masa era ke-7 hingga era ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya meningkat pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mendatangi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. 

Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai wilayah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya suatu kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada sukses menerima kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya merupakan Indonesia beserta nyaris seluruh Semenanjung Melayu. 

Warisan dari masa Gajah Mada tergolong kodifikasi aturan dan dalam kebudayaan Jawa, menyerupai yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

II. Kerajaan Islam

Islam selaku suatu pemerintahan hadir di Indonesia sekitar era ke-12, tetapi sesungguhnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada era 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional lewat Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak era 7. 

Menurut sumber-sumber Cina menjelang final perempatan ketiga era 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Islam pun menampilkan imbas terhadap institusi politik yang ada. 

Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, suatu kesultanan Islam berjulukan Kesultanan Peureulak diresmikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain merupakan Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim berjulukan Bayanullah.

Kesultanan Islam kemudian semikin membuatkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan lewat pembauran, mengambil alih Hindu selaku keyakinan utama pada final era ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap menjaga dominan Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam dikenali sudah aktif pada era ke-16 dan 17, dan di sekarang ini ada dominan yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.

Penyebaran Islam dilaksanakan lewat relasi jual beli di luar Nusantara. Hal ini sebab para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan delegasi dari pemerintahan Islam yang tiba dari luar Indonesia. 

Para mubaligh ini melakukan pekerjaan lewat cara berdagang, para mubaligh inipun membuatkan Islam terhadap para pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, sebab lazimnya pedagang dan piawai kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama gres tersebut. 

Kerajaan Islam penting tergolong diantaranya, yakni Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin relasi diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kerajaan Mataram, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku.

C. Zaman Kolonial

I. Kolonisasi Portugis

Periode 1511-1526, selama 15 tahun nusantara menjadi pelabuhan laut penting bagi Kerajaan Portugis, yang secara reguler menjadi rute laut untuk menuju Pulau Sumatera, Jawa, Banda, dan Maluku. Pada tahun 1511 Portugis mengalahkan Kerajaan Malaka. Setelah Portugis sukses menguasai Malaka, pada 1512 Afonso de Albuquerque mengirim Antonio Albreu dan Franscisco Serrao untuk memimpin armadanya mencari jalan ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. 

Sepanjang perjalanan, mereka singgah di Banten, Sunda kalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara hingga tiba di Ternate. Pada waktu itu dua armada Portugis, masing-masing dibawah pimpinan Anthony d'Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. 

Mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat, menyerupai dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli, begitupula Negeri Hitu lama, dan Mamala di Pulau Ambon. Namun relasi jualan rempah-rempah ini tidak berjalan lama, sebab Portugis menerapkan metode monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Katolik. 

Salah seorang misionaris kondang merupakan Franciskus Xavierius. Tiba di Ambon 14 Pebruari 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa kenal letih melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan penyebaran agama. Persahabatan Portugis dan Ternate rampung pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), menghasilkan Portugis mesti angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.

II. Kolonisasi VOC

Mulai tahun 1602 Belanda pelan-pelan menjadi penguasa wilayah yang kini merupakan Indonesia, dengan mempergunakan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang sudah mengambil alih Majapahit. Satu-satunya yang tidak terpengaruh merupakan Timor Portugis, yang tetap dikuasai Portugal hingga 1975 di saat berintegrasi menjadi provinsi Indonesia berjulukan Timor Timur. 

Sewaktu menjajah Indonesia, Belanda memajukan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang merupakan mitos belaka sebab wilayah Aceh gres ditaklukkan kemudian sehabis Belanda mendekati kebangkrutannya. 

Pada era ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara pribadi oleh pemerintah Belanda tetapi oleh perusahaan jualan berjulukan Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). 

VOC sudah diberikan hak monopoli terhadap jual beli dan acara kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini berjulukan Jakarta.

Tujuan utama VOC merupakan menjaga monopolinya terhadap jual beli rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilaksanakan lewat penggunaan dan bahaya kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang menjajal berjualan dengan para penduduk tersebut. 

Contohnya, di saat penduduk Kepulauan Banda terus memasarkan biji pala terhadap pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi nyaris seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang melakukan pekerjaan di perkebunan pala. 

VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa pertempuran yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.

III. Indonesia Jaman Kolonisasi Pemerintah Belanda

Setelah VOC jatuh melarat pada final era ke-18 dan sehabis kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Sebuah pemberontakan di Jawa sukses ditumpas dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Setelah tahun 1830 metode tanam paksa yang dipahami selaku cultuur stelsel. 

Dalam metode ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi seruan pasar dunia pada di saat itu, menyerupai teh, kopi, dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini menenteng kekayaan yang besar terhadap para pelaksananya, baik pihak Belanda maupun Indonesia. Sistem tanam paksa ini merupakan monopoli pemerintah dan dihapuskan pada masa yang lebih bebas sehabis 1870. 

Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Politik Etis, yang tergolong investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit pergantian politik. 

Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara pribadi di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia di saat ini. 

IV. Indonesia Pada Masa Gerakan Nasionalisme

Gerakan nasionalis yang pertama pada tahun 1908 merupakan Budi Utomo. Belanda menanggapi hal tersebut sehabis Perang Dunia I dengan tindakan penindasan. 

Para pemimpin nasionalis berasal dari kalangan kecil yang berisikan profesional muda dan pelajar, yang beberapa di antaranya sudah dididik di Belanda. Banyak dari mereka yang dipenjara sebab aktivitas politis, tergolong Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno. 

V. Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang

Pada Juli 1942, Soekarno menerima proposal Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga sanggup menampilkan respon terhadap keperluan militer Jepang. 

Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai menerima penghormatan dari Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sungguh bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. 

Bagi yang tinggal di wilayah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan eksekusi mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan adonan Indonesia-Belanda merupakan sasaran sasaran dalam penguasaan Jepang.

Pada Maret 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada konferensi pertamanya di bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional dan melawan individualisme perorangan, sementara itu Muhammad Yamin menganjurkan bahwa negara gres tersebut juga sekaligus mengklaim Sarawak, Sabah, Malaya, Portugis Timur, dan seluruh wilayah Hindia-Belanda sebelum perang.

Pada 6 Agustus 1945, dua bom atom dijatuhkan ke dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Hal Iini menyebabkan Jepang mengalah terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Peristiwa ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Pada 7 Agustus, BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). 

Pada  tanggal 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu  Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menghendaki kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus. Di Indonesia, Sutan Syahrir sudah mendengar info lewat radio pada tanggal 10 Agustus 1945, bahwa Jepang sudah mengalah terhadap Sekutu. 

Para pejuang bawah tanah berkemas-kemas memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan selaku kado Jepang. Ketika Soekarno, Hatta, dan Radjiman kembali ke tanah air pada tanggal 14 Agustus 1945, Syahrir mendesak supaya Soekarno secepatnya memproklamasikan kemerdekaan. Namun Soekarno belum percaya bahwa Jepang memang sudah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI di saat itu sanggup membuat pertumpahan darah yang besar, dan sanggup berakibat sungguh fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.

Para perjaka pejuang, tergolong Chaerul Saleh, yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 mereka menculik Soekarno dan Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian kondang selaku bencana Rengasdengklok.

Para tokoh muda kembali meyakinkan Soekarno, bahwa Jepang sudah mengalah dan para pejuang sudah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. 

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, untuk berjumpa dengan Jenderal  Moichiro Yamamoto dan bermalam di kediaman Laksamana Muda  Maeda Tadashi. Dari komunikasi antara Hatta dan ajun komandan Jepang di Jawa ini, Soekarno dan Hatta menjadi percaya bahwa Jepang sudah mengalah terhadap Sekutu, dan tidak mempunyai wewenang lagi untuk menampilkan kemerdekaan.

Mengetahui bahwa proklamasi tanpa pertumbahan darah sudah tidak mungkin lagi, Soekarno, Hatta, dan anggota PPKI yang lain malam itu juga rapat dan mempersiapkan teks Proklamasi yang kemudian dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Comments

Popular posts from this blog

Jejak Sejarah Seni Wayang Wong Surakarta

Koleksi Mainan LOL Surprise yang Menarik

Cara Mengecek Indosat Masih Aktif atau Sudah Kadaluarsa