Biografi Sejarah A.H Nasution (Jenderal Bintang Lima)

Abdul Haris Nasution (lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 - meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun). Dari pasangan H. A. Halim Nasution (ayah) dan Hj. Zaharah Lubis (Ibu) yang melakukan pekerjaan selaku petani. A.H. Nasution menikah dengan Sunarti putri dari Gondokusumo pada 30 Mei 1947 dan dikaruniai 2 orang anak berjulukan Hendriyanti Saharah dan Ade Irma Suryani.

Riwayat dinas tercantum lahir pada 3 Desember 1918. Akan namun yang sebenarnya lahir pada 31 Mei 1918. Untuk kepentingan sekolah Belanda, terpaksa diundurkan 6 bulan.
 Nasution menikah dengan Sunarti putri dari Gondokusumo pada  Biografi Sejarah A.H Nasution (Jenderal Bintang Lima) A.H. Nasution berasal dari keluarga Batak Muslim. Semasa kecil, A.H. Nasution erat dengan panggilan si Ris . A.H. Nasution  menyenangi pelajaran ilmu bumi dan sejarah. Ia mendapat nilai tinggi untuk kedua pelajaran tersebut. Pada kelas 6 dan 7 HIS ia boleh meminjam buku dari perpustakaan sekolah yang lazimnya berbahasa Belanda.

Desa A.H. Nasution berisikan tiga kampung, yakni kampung Huta Pungkut Jae (Hilir), Huta Pungkut Tonga (Tengah), dan Huta Pungkut Julu (hulu). Kampung halaman A.H. Nasution dilihat dari sisi geografisnya dikelilingi oleh barisan-barisan gunung, serta lembah dengan sungai-sungainya. Berdasarkan kondisi alamnya, pada lazimnya penduduk mata pencahariannya mengandalkan dari bercocok tanam sekaligus pedagang.

Ayahnya seorang pedagang tekstil, kelontong atau karet dan kopi yang dijual pada pedagang-pedagang Cina di Padang Sidempuan, Sibolga, Bukittinggi atau Padang. Selain itu ayah A.H. Nasution juga salah seorang pengagum usaha kebangkitan Islam dan kebangkitan Turki. Hal ini terbukti dengan dijadikannya gambar Kemal Pasha selaku satu-satunya dekorasi dinding dirumahnya.

Hiburan atau kesenangan bawah umur mudanya merupakan bersepak bola, lapangannya yakni sawah yang sudah panen dan bolanya biasanya yakni cuma suatu kulit jeruk bali yang besar-besar. Desa A.H. Nasution terkenal diseluruh wilayah selaku desa maju usahanya, dan pedagang-pedagang Huta Pungut yakni unggul di pekan-pekan tersebut. Distrik A.H. Nasution terkenal dengan banyak sekolah dan banyak pergerakan politiknya. Tiga orang dari 6 Gubernur Sumatra Utara sejak republik ini berdiri, yakni 3 dari distrik A.H. Nasution.

 Desa A.H. Nasution juga terkenal selaku desa aktivis pergerakan politik di masa kolonial. Di masa kebangkitan nasional sudah ada Sarekat Islam yang senantiasa dibanggakan oleh Ayahanda A.H. Nasution. Berbagai jenjang pendidikan sudah dilewatinya, A.H. Nasution memperoleh ijasah pada Sekolah Guru (HIK) (lihat lampiran 2), Sekolah Menengah Atas (AMS) dan dalam bidang militer dari Akademi Militer (KMA).

Ketika A.H. Nasution masih kecil, prospek dari kakek dan neneknya, agar A.H. Nasution kelak menjadi guru pencak silat menyerupai kakeknya, hal itu berlainan dengan prospek dari Ayahnya. Ayah A.H. Nasution ingin agar A.H. Nasution sehabis sekolah dasar, memprioritaskan kesekolah agama dan ibunya ingin agar A.H. Nasution sekolah di sekolah lazim , yang waktu itu disebut dengan sekolah “Belanda” mengikuti jejak almarhum kakaknya yang sekolah dokter di Betawi.

A.H. Nasution sekolah di HIS di Kotanopan, yang jauhnya 6 km dari kampung Huta Pungut. Tiap hari naik bendi (delman) bareng 5 orang kerabat sepupunya kesekolah dan pulang pukul 14.00 atau 15.00 kembali kerumah, dan setibanya di rumah melanjutkan aktivitasnya pergi ke madrasah untuk mengaji hingga pukul 18.007. Tahun 1932 A.H. Nasution tamat sekolah HIS dan melanjutkan di “Sekolah Raja” (HIK) Bukittinggi, yakni Sekolah Guru. Pada waktu mengikuti pendidikan guru di HIK, ia berhasrat untuk masuk ke perguruan tinggi militer.

A.H. Nasution mulai kesengsem untuk menjadi seorang tentara militer. Keinginan untuk masuk dan menjadi serdadu militer bersumber dari wangsit dimana A.H. Nasution sudah banyak membaca buku wacana perjuangan-perjuangan luar negeri. Seperti umpamanya sesosok tokoh Kemal Attaruk sang pemimpin Turki yang menenteng negeri dan bangsanya kearah yang lebih maju. Selain itu tokoh Napoleon Bonaparte yang mengisahkan revolusi Perancis menjadi darah muda A.H. Nasution terbakar oleh semangat perjuangan. Itulah sebabnya keinginannya untuk masuk ke sekolah militer sungguh kuat. Akan namun untuk masuk ke perguruan tinggi militer tersebut mesti memiliki ijazah sekolah AMS atau setara dengan SMU bila sekarang.

Tiap tahunnya cuma satu orang saja yang sanggup diterima itupun cuma berasal dari keluarga-keluarga pamong praja serta keluarga yang sedang berdinas terhadap Belanda.  Didorong prospek yang sungguh kuat, walaupun belum lulus HIK, A.H Nasution menjajal untuk mengikuti cobaan AMS. Dalam waktu yang serempak ia sukses memperoleh dua ijazah sekaligus.

Pada tahun 1935 A.H. Nasution mengawali satu langkah lagi, yakni meninggalkan Sumatera untuk sekolah di Bandung, pindah ke pulau lain dan bagi A.H. Nasution untuk pertama kalinya mengalami perjalanan laut. Karena pada masa itu di Sumatera belum ada Sekolah Menengah Atas, lantaran itu mesti pergi ke Pulau Jawa.

Pada masa tengah tahun senantiasa banyak cowok yang bertolak dari Padang ke Jawa Barat dengan kapal KPM, maskapai monopoli Belanda. Perjalanan dari Padang-Tanjung Priok berjalan 4 hari 4 malam, dan terhenti setengah jam di depan Indrapura, Bungkulu dan Kroe.

Pada tahun 1940 sesudah pecah Perang Dunia II di Eropa,  pemerintah Hindia-Belanda menderita kekalahan dan kerugian di bawah kekuasaan Jerman. Belanda memiliki KMA (Koninklijke Militaire Academi) di Breda, yang terletak di belahan selatan negeri itu. Karena Belanda diduduki oleh Jerman, maka perguruan tinggi serupa diadakan di Bandung untuk menghadapi tentara Jepang.

Pemerintah Hindia-Belanda memerlukan perwira cadangan, maka kemudian didirikan  Corps Ofleiding Reserve Officieren (CORO) yang menampilkan potensi pada pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki ijazah AMS untuk dididik menjadi perwira cadangan militer. Pemerintah kolonial Belanda mengadakan suatu proses segera guna mengisi keperluan akan perwira-perwira.

Pada tingkatan pertama semua menjadi milisi biasa. Selanjutnya akan dipilih yang terpilih kemudian menjadi bintara-bintara milisi. Selanjutnya dipilih lagi untuk manjadi taruna-taruna tingkat kedua perguruan tinggi serta menjadi Vaandrig Milisi (calon perwira cadangan dengan pangkat Pembantu Letnan, dari tingkat  Vaandrig Milisi dipilih untuk menjadi Taruna Akadem Militer III. Di Breda landasan teoritis diberikan tahun pertama dan tahun kedua, sedangkan praktek pada tahun ketiga. Namun di Bandung sejak pertama diberikan sekaligus teori dan praktek agar setiap di saat sanggup menekuni ke medan perang.
 
A.H. Nasution mengikuti pendidikan di CORO, dan sesudah selesai selaku Taruna Akademi Militer (KMA) pada tingkat II dengan pangkat Sersan Taruna. Di sekolah ini, A.H. Nasution mempelajari seluk beluk dan teknik kemiliteran. A.H. Nasution merupakan salah satu siswa yang pandai dan piawai dalam memperoleh pelajaran sehingga ia cepat naik pangkat Pembantu Letnan Taruna.

Masuknya A.H. Nasution Dalam Dunia Militer

A.H. Nasution memang sudah digariskan untuk menjadi seorang perwira yang berjuang untuk membela, mempertahankan, dan membebaskan negeri ini dari kolonialisme. Meskipun cita-citanya dari kecil untuk menjadi seorang guru, yang mengamalkan ilmunya melalui dunia pendidikan, dengan berjalannya waktu dan berkembang pemikirannya, jadinya A.H. Nasution menentukan untuk menjadi seorang perwira yang berjuang untuk merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

Pada waktu itu, untuk seorang guru sungguh dihormati di mata masyarakat. Keinginan itu didorong sepenuhanya oleh kedua orang tuanya dalam memasuki sekolah guru yang berjulukan Sekolah Raja. Setelah lulus dari Sekolah Raja, A.H. Nasution melakukan pekerjaan dan menerapkan ilmu yang diperolehnya dengan menjadi guru partikelir di Bengkulu dan di Muara Dua dekat Sumatera Selatan pada tahun 1937.

Pada perkembangannya kondisi pekerjaan dicicipi kurang bikin puas bagi A.H. Nasution. Dengan cuma memiliki dua tenaga pengajar yang mesti memberi pelajaran serta mengorganisir segala sesuatu yang bermitra dengan sekolah ditambah lagi dengan keterkaitannya dengan pengelola sekolah tidak begitu tanpa kendala menghasilkan A.H. Nasution menentukan berhenti. Selain dari aspek tersebut A.H. Nasution juga kian menyadari bahwa profesi seorang guru belum sesuai dengan keinginannya. Ia berhasrat untuk menjadi seorang militer sejati. Pada dasarnya jiwa A.H. Nasution yakni jiwa seorang militer.

Masuknya Jepang ke Indonesia, memiliki potensi untuk menjalankan propaganda akhir meletusnya Perang Dunia II, untuk memerdekakan negara-negara di Asia dari penjajahan Barat. Dengan argumentasi untuk kemakmuran bareng Asia Timur Raya. Bangsa-bangsa di Asia yakin terhadap Jepang untuk sanggup menghalau kolonialisme barat sungguh besar tergolong Indonesia. Kepercayaan ini pula yang memunculkan dinas diam-diam Jepang sanggup mengadakan front dalam negeri untuk menikam Belanda. Dengan demikian secara tidak pribadi dimulailah kolonial Jepang mengambil alih kolonial Belanda atas Indonesia.

Pada masa penjajahan Jepang dibikin ketentaraan teritorial yang disebut dengan Pembela Tanah Air (PETA). Anggota PETA sendiri dari golongan pribumi yang ingin membela dan menjaga bangsa bareng Jepang. Itu merupakan siasat dari Jepang untuk memperbesar kelemahan pasukan Jepang lantaran kekalahan pada perang melawan sekutu. A.H. Nasution menjadi salah satu anggota Badan Pembantu Prajurit yang tidak dipersenjatai. Badan ini bertugas untuk menolong kemakmuran serdadu PETA dengan pimpinan Otto Iskandardinata dengan memiliki wilayah kiprah yang diemban pada A.H. Nasution termasuk Jakarta, Semarang, Solo, dan Surabaya.

Kariernya dalam militer perlahan tetapi niscaya terus bertambah dalam masa-masa yang bergejolak. Ketika bangsa ini meraih kemerdekaan pada 1945, A.H. Nasution merupakan Kolonel Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menjabat selaku Kepala Staf Komandemen I Jawa Barat. Pada tahun 1945-1946 itu pula kemudian A.H. Nasution selaku Kolonel Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menjadi Panglima Divisi III TKR (Priangan).

Pada tahun 1943, A.H. Nasution melakukan pekerjaan selaku pegawai Kotapraja Bandung dan menjabat selaku Pimpinan Barisan Pemuda dan Wakil Komandan Batalyon Barisan Pelopor. Ketika bangsa Indonesia meraih kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, A.H. Nasution merupakan Perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menjabat selaku Kepala Staf Komandemen I Jawa Barat. Kemudian dia memperoleh keyakinan untuk mengambil alih Kolonel Aruji selaku Panglima Divisi III TKR yang termasuk wilayah seluruh Priangan ditambah wilayah Sukabumi dan Cianjur. A.H. Nasution membawahi Resimen 8 dan 9 sehingga kelaskarannya menjadi lebih kuat.

Pada tahun 1946 dan 1948 jabatan A.H. Nasution naik selaku Mayor. Divisi Siliwangi yang merupakan adonan dari Divisi I, Devisi II, dan Divisi III. Dalam kurun tahun 1947-1948 A.H. Nasution sudah memimpin perang gerilya Jawa Barat melawan Agresi Militer Belanda I. Selama menjabat selaku Mayor Jendral, A.H. Nasution menjadi Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) merangkap selaku Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang dan mewakili kiprah Panglima Besar Jenderal Sudirman lantaran pada di saat itu dia dalam kondisi sakit.

Pada tahun 1949, A.H Nasution memperoleh keyakinan lagi untuk menjabat Kepala Staf Angkatan Darat Republik Indonesia Serikat (KSAD RIS) dengan pangkat Kolonel hingga dengan tahun 1952. Pada tahun 1952 dia sempat dinonaktifkan selaku KSAD sesudah tragedi 17 Oktober 1952.

Peristiwa 17 Oktober 1952 merupakan dimana A.H. Nasution memimpin tentara mengadakan Show of Force yakni dengan mengepung istana kepresidenan dengan persenjataan lengkap. Karena tragedi tersebut, A.H. Nasution dianggap menjalankan kudeta. Didalam petisi tersebut, A.H. Nasution mengharapkan ketegasan dari Presiden Sukarno dan membubarkan dewan legislatif yang pada waktu itu tidaklah stabil. Setelah duduk kasus intern Tentara Nasional Indonesia AD itu selesai tahun 1955, A.H. Nasution diangkat kembali menjadi KSAD.

Pada tahun 1958-1960 terjadi kemelut perihal Irian Barat. A.H. Nasution menjadi salah satu anggota yang bergabung dalam Anggota Dewan Nasional dan Ketua Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Dan pada tahun 1958 pula, A.H. Nasution diangkat selaku Letnan Jendral. A.H. Nasution menapaki karier dan pekerjaannya, secara setapak demi setapak hingga jadinya ia meraih pangkat tertinggi dalam karier kemiliterannya.

Selain di dunia militer, A.H. Nasution juga memiliki karier dalam bidang politik. Hal ini sanggup dilihat dari kedudukannya yang sungguh strategis di bidang politik. Ia pernah menjabat selaku Menteri Keamanan Nasional, Ketua Panitia Penyusun Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara, anggota Panitia Perumus Dekrit Presiden untuk kembali terhadap Undang-Undang Dasar 1945, panitia Tiga Menteri Pelaksanaan Penpres Tujuh wacana Penyederhanaan Kepartaian, anggota Panitia Enam untuk  Regrouping Kebinet Kerja, anggota Penyusunan MPRS, Ketua Panitia  Retooling aparatur Negara, Wakil Ketua Pengurus Besar Front Barat, Anggota MPRS,  dan Ketua MPR.

Riwayat Karir A.H Nasution 

A.   Masa Hindia-Belanda

1939-1940

Menjadi Guru di daerah Bengkulu kemudian di daerah Palembang Sumatera Selatan 

1940-1942

Cadet Vaandrig Pembantu Letnan/Taruna, Perwira Batalyon Inf. III Surabaya (pada saat Pendaratan Tentara Jepang di Indonesia)

B.  Masa Pendudukan Jepang

 1943-1945

Bekerja sebagai Pegawai Kotapraja Bandung

C.  Masa Republik Indonesia

 

        1945

Kolonel. selama setengah bulan menjabat sebagai Kepala Staf Komandan Jawa Barat, kemudian menjadi Panglima divisi III/TKR (Priangan).

          1946

Panglima Divisi I Siliwangi (Jawa Barat), kemudian dengan sukarela menurunkan pangkat satu tingkat menjadi Kolonel.

          1948

Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia. Kemudian terjadi penurunan pangkat setingkat dalam Tentara Nasional Indonesia yaitu Kolonel.

1948-1949

Menjabat sebagai Panglima Komando Jawa.

1949-1950

Kepala Staf Angkatan Darat RIS.

1950-1952

Kepala Staf Angkatan Darat RI.

          1952

Berhenti menjadi KSAD.

          1955

[1]    Terpilih menjadi anggota Konstituante

[2] Mayor Jendral, Diangkat kembali menjadi KSAD. [3] Ketua GKS (Gabungan Kepala Staf).

          1958

Letnan Jendral. Anggota Dewan Nasional, mengusulkan dengan lisan, untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.

          1959

Menteri Keamanan Nasional/ Menko Hankam/ KASAB.

          1960

Jenderal, Anggota MPRS.

          1962

[1] Wakil Panglima Besar Pembebasan Irian Barat. [2] Berhenti Menjadi KSAD. Diangkat sebagai KSAB, di samping tetap menjadi Menteri Koordinator Hankam. [3] Berhenti sebagai Wakil Panglima Besar Pembebasan Irian Barat berhubung jabatan tersebut dihapuskan.

          1965

Sebentar diangkat kembali menjadi Wakil Panglima Besar, setelah terjadi G.30.S kemudian jabatan tersebut dihapuskan lagi.

          1966

 [1] Februari 1966, setelah TRITURA (Aksi KAMI), diberhentikan sebagai Menko Hankam / KASAB (jabatan-jabatan tersebut dihapuskan oleh Presiden. [2] Setelah SUPER SEMAR dan diadakan pembaruan Kabinet, diangkat kembali sebentar sebagai Wakil Panglima Besar Komando Ganyang Malaysia (KOGAM).

 1966-1972

Menjabat sebagai Ketua MPRS.

           1997

Mendapat anugerah Pangkat Kehormatan Jenderal Bintang Lima.

 


Dalam sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, cuma terdapat 3 orang yang diberi kehormatan menggunakan pangkat Jendral Besar (Bintang Lima) atas jasa-jasanya yang sungguh besar. Mereka adalah:

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

Baca juga
Solichin Salam, 1990, A.H. Nasution: Prajurit, Pejuang, dan Pemikir, Jakarta: Penerbit Kuning Mas
Bachtiar, Harsja W. (1998). Siapa Dia?: Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Wikipedia : Abdul Haris Nasution 
gambar A.H Nasution (berkas Wikipedia Abdul Haris Nasution)

Comments

Popular posts from this blog

Latar Belakang Blog Yang Baik

Jejak Sejarah Seni Wayang Wong Surakarta

Jenis Jenis Reksadana Yang Perlu Kamu Ketahui